Kamis, 08 September 2016

SEBAIT “KAMPANYE PELESTARIAN ORANGUTAN DI INDONESIA”





Jangan tanya berapa duit yang telah aku keluarkan, tapi tanyalah berapa banyak pengalaman yang aku peroleh dari hobi ku yaitu menjadi “Tukang Jalan”. Bagiku membuat itinerary itu lebih mengasikkan daripada membuat laporan harian kantor, berada di tempat asing bagiku adalah tempat teraman keluar dari rutinitas sehari-hari. Tapi dari semua rekaman jejak kaki ku selama menikmati kekayaan wisata di Indonesia, ada sebait rasa kesedihan.

Saat itu, aku sedang melakukan perjalanan dengan bersepeda motor membelah jalanan Kalimantan (dengan rute Kalimantan Timur – Kalimantan Tengah – Kalimantan Selatan) seorang diri. Hari ketiga perjalananku, aku tiba di BOSF (Borneo Orangutan Survival Foundation) Palangkaraya - Kalimantan Tengah, dari titik inilah untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung Orangutan (Pongo Pygmaeus), begitu sedihnya melihat hewan yang secara empirik mempunyai DNA 97 % mirip manusia serta termasuk hewan yang dilindungi, sementara harus berada jauh dari habitat aslinya, seakan rasanya seperti manusia yang dipenjara, tidak bebas mengexspresikan kehidupan secara normal. Rasa sedih itu membuat perasaanku menjadi bersalah, karena aku belum bisa memberi bantuan ke sesama mahluk hidup ciptaan Tuhan lainnya.

(Koleksi Pribadi)

Sebait demi sebait kesedihan itu berubah menjadi amarah yang berkecamuk didalam dada, begitu banyak latar belakang alasan Orangutan hingga bisa berada di tempat rehabilitasi ini, tempat pemulihan kondisi fisik hingga psikologis Orangutan sebelum dia siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Salah satu alasannya adalah karena Orangutan tersebut pernah dipukul hingga lemas, hanya karena pada saat itu, dia memberontak ketika ingin dibunuh setelah tertangkap disalah satu areal perkebunan.

Miris, banyak terdapat kasus penganiayaan, pembantaian atau pembunuhan Orangutan yang dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggungjawab, yang mengakibatkan jumlah populasi dan habitat Orangutan khususnya di Kalimantan selalu menurun setiap tahunnya, apalagi diantaranya melibatkan perusahaan. Kasus itu pun menuai banyak protes dari kelompok pelindung satwa, termasuk protes dari diriku sendiri.

Tapi dibalik itu taukah kita apa alasan yang mendasar bahkan sangat mendasar penyebab mereka melakukan hal seperti itu?

Jika kita menengok dari kasus pembantaian yang melibatkan orang-orang di perusahaan perkebunan. Sudah tentu bisa dipastikan mereka mengetahui akan adanya peraturan dari pemerintah tentang konservasi sumber daya alam hayati & ekosistemnya yang telah diatur pada undang-undang no.5 tahun 1999 yaitu Orangutan termasuk salah satu satwa yang dilindungi, akan tapi mengapa mereka masih saja melanggar?, apakah mereka hanya sekedar “TAU” akan peraturan tersebut? tapi “TIDAK PAHAM” peraturan secara menyeluruh?.

Seperti kasus yang terjadi di Kutai Kartanegara pada tahun 2012, Orangutan diburu hingga dibunuh hanya karena Orangutan dianggap menjadi hama di areal perkebunan mereka, hingga pihak perusahaan mengeluarkan pengumuman kepada seluruh karyawan serta masyarakat sekitar, bagi yang bisa menangkap atau membunuh akan diberi imbalan Rp 1.000.000 untuk satu ekor Orangutan, sedangkan untuk hewan lainnya seperti monyet dan bekantan diberi imbalan Rp 200.000 serta babi dan landak mereka mendapat imbalan Rp 100.000. Informasi tersebut aku dengar langsung dari sepupu yang kebetulan bermukim disana. Kalau sudah begitu keperluan ekonomilah yang mengubah watak masyarakat sekarang, hingga mengorbankan apa yang ada di alam.

Jika aku tau hal demikian akan mereka lakukan, dan bila belum terlambat, ingin rasanya untuk membawa pimpinan perusahaan tersebut bersafari mengelilingi hutan serta melihat habitat asli Orangutan secara langsung ke Tanjung Puting, agar mereka belajar untuk menghargai, menyayangi, dan semoga hatinya bisa tersentuh ketika melihat Orangutan yang sedang bergelantungan dipepohonan dengan raut kebahagiaan yang tersaji, serta akan kusuruh untuk menginap diatas kapal yang diperuntukkan sebagai alat transportasi menuju salah satu kawasan taman nasional di jantungnya Borneo itu.



Apa perasaanmu? Andaikata kamu diposisi seperti itu? 
Padahal diluar sana kamu punya keluarga dan rumah 
(Koleksi pribadi)


Sedangkan jika kasus yang terjadi bukan dari pihak perusahaan, yaitu dari masyarakat, apa alasan mereka sehingga membunuh Orangutan tersebut?. Kebetulan aku tinggal di pedalaman Kalimantan yang mana masih banyak terdapat Suku Dayak asli yang mendiami daerah tersebut. Sebenarnya bagi Suku Dayak (hampir seluruh sub etnis Dayak) mereka memandang Orangutan adalah sama seperti manusia yaitu merupakan ciptaan Tuhan yang punya hak hidup, hal ini tertuang pula dalam hukum adat mereka.

Tetapi hanya sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa Orangutan itu adalah sama haknya dengan kita manusia, setengahnya lagi tidak beranggapan seperti itu, karena mungkin menurut logika mereka semua hewan sama, bisa dimakan, bisa dipelihara, bisa dijual, bisa dibunuh ketika mengganggu dan sebagainya. Lihat saja kasus yang terjadi di tahun 2015 kemarin, kasus pembunuhan Orangutan di Pangkalan Bun oleh inisial LA, alasan dia membunuh Orangutan hanya karena upayanya untuk bertahan hidup selama dihutan. Sebelumnya kasus yang serupa pernah terjadi  pada tahun 2014 di Kutai Timur.

Nah, disinilah peran penting kita untuk segera melakukan Kampanye tentang pelestarian Orangutan di Indonesia, terlebih dahulu dimulai dari daerah sendiri. Agar mereka bukan sekedar “TAU” akan tetapi “PAHAM”.

Mengapa perlu kita kampanyekan? Karena mungkin sebagaian masyarakat ada yang belum pernah mendengar bahkan belum tau tentang peraturan “setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, memiliki, menyimpan, memelihara dan memperniagakan satwa dan tumbuhan yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati serta bagian bagian tubuhnya, pelaku dapat dikenakan sangsi hukum kurungan penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal seratus juta rupiah” atau ada yang pernah mendengar peraturan tersebut namun kurang memahaminya. “Mengapa Orangutan harus dilindungi?” pikir mereka.

Jika ada masyarakat yang belum paham, mengapa Orangutan harus dilindungi? Kita dapat memaparkan secara sederhana, yaitu seberapa banyak luas hutan di pulau Borneo–nya Indonesia yang bisa dijangkau oleh manusia setiap hari? Orangutan bersama hewan satwa yang dilindungi lainnya mampu menjelajahi hutan yang luas bahkan sulit untuk ditempuh oleh manusia. Karenanya Orangutan berperan penting dalam keseimbangan ekosistem untuk menyediakan oksigen melalui biji-bijian yang dibawanya, lalu biji –bijian tersebut menyebar disepanjang hutan yang dilalui oleh Orangutan atau hewan satwa lainnya, dan biji-bijian tersebut berubah menjadi sebuah tanaman, tumbuhlah satu pohon, lalu satu pohon lagi ditempat yang berbeda, perlu kita ketahui, bahwa satu pohon dapat menghasilkan 1,2 kg oksigen setara untuk kebutuhan udara yang dihirup oleh 2 orang manusia, kalikan saja sejuta pohon bermanfaat untuk manusia dalam jumlah besar, luar biasa. Hal ini juga untuk mengurangi Pemanasan global yang semakin tahun semakin mengkhawatirkan.

Berangkat dari perasaan bersalah tadi, aku berniat untuk mengkampanyekan pelestarian Orangutan di Indonesia memalui tulisan, sebagai bentuk rasa cintaku kepada Indonesia terkhususnya untukmu Borneo, dan melakukan kampanye dengan cara yang sederhana, dan telah aku lakukan yaitu dengan mengurangi sampah plastik, karena plastik tidak mudah terurai yang menyebabkan hambatan pagi pertumbuhan pohon, pohon sumber oksigen, jika pertumbuhannya terhambat, menipislah cadangan oksigen yang ada.

Selain Orangutan di Kalimantan masih terdapat banyak sekali satwa lainnya yang dilindungi, salah satunya adalah Penyu hijau (Chelonia mydas) yang disebut-sebut sebagai hewan yang terancam punah. Tahun 2012 ketika pertama kali aku ke Pulau Derawan, Penyu hijau masih banyak terlihat, dari yang anak hingga yang dewasa, dari yang berukuran kecil hingga berukuran besar, konon panjang hewan ini dapat mencapai 90 cm dengan bobot hingga 150 kg, namun kunjungan kedua ku di tahun 2014, hanya sedikit Penyu yang aku jumpai.

Inilah beberapa rekaman perjalananku yang menjadi aset pengalaman yang sangat berharga, dimana aku banyak belajar, bertemu orang-orang baru, dan sebagainya. Ohya, jika anda ingin membaca rekaman perjalanan lainnya serta tips tentang perjalanan, aku sangat menyarankan anda mengunjungi (klik saja) "cerita perjalanan", semoga anda terinspirasi dan mari bersama-sama kita menularkan sebait semangat “Kampanye pelestarian Orangutan di Indonesia”

Salam, jaga alamnya, hormati budayanya

Kamis, 07 Mei 2015

SAHABAT ABADI edisi pendakian pegunungan Karst Kutai Timur.



Lutut bertekuk menyentuh dagu, merayap melewati jurang-jurang tebing dengan vegetasi hutan tropis di pegunungan karst, 10 jam lamanya pendakian kali ini, normal pendakian biasanya hanya 6 jam, tidak tinggi, hanya sekitar 600 mdpl (meter di permukaan laut), tapi, jalur trackingnya sungguh menentang nyali, apalagi dikala batu karst berjatuhan, tangan kukuh mencekam apa saja yang dianggap kuat untuk menumpu beban agar tak berresiko jatuh, kerjasama dalam tim pendakian sangat membantu untuk menghidupi semangat yang hampir redup diterpa keletihan, ego pun berputar diantaranya, inilah sebuah tantangan yang sesungguhnya, pencapaian bukanlah puncak, tapi pencapaian adalah melawan ego, dan kami belum seutuhnya bisa, masih harus terus banyak belajar, dan terus belajar.

Foto bareng KOMPAD Kutai Barat dan GEMPALA Kutai Timur di Puncak Jepu-jepu, Pegunungan Karts, Kutai Timur (Foto by Ride)
Salah satu sudut pegunungan Karst di Kutai Timur (foto by Yana)
Foto by Ride
Foto By Ride
Mereka penikmat ketinggian
Jalur menuju puncak Jepu-jepu dan puncak tertingginya adalah puncak Sejati di Pegunungan Karst Desa Sekerat, Kutai Timur, dibuka tanpa menebas pohon sedikit pun, hanya di beri tanda pita merah putih, sungguh mereka sangat menjaga alamnya, dan dari merekalah kami banyak mendapatkan ilmu, pengalaman dan tentunya pengertian yang benar tentang PA (Pecinta Alam).

Luar biasa sambutan dari kawan - kawan GEMPALA, kami terharu :)
Sebelum melakukan pendakian, kami KOMPAD Kutai Barat (Komunitas Pecinta Alam Damai) yang baru berumur hampir dua bulan ( 15 Maret 2015 ) diberi pelatihan tentang : First Aid, SRT beserta tali – temali, Survival, Caving, Mountering, Menajemen Perjalanan dll oleh tim GEMPALA edelwies (Generasi Muda Pecinta Alam), yaitu sebuah Komunitas Pecinta alam yang berlokasi di Bengalon, Kutai Timur.

Pelatihan First Aid
Pelatihan tali - temali (simpul)
Pelatihan SRT

Sore hari, usai materi yang disertai praktek langsung, kami menuju pantai untuk mempraktekkan teori tentang survival air, lalu, tepat pukul 2 pagi, kami dibangunkan, dan berbaris serta berjalan dikegelapan dengan beberapa instruksi yang harus kami ikuti, ini benar-benar diluar dugaan kami, kami mendapatkan banyak teori langsung tentang LADAS (Latihan Dasar) Pecinta Alam.

Kami terharu, dan kami bingung, tapi kami sangat bersyukur, di usia muda komunitas kami ini, kami mendapatkan sahabat yang begitu ikhlas nya mau membagi ilmu tanpa pamrih, dan sungguh hal luar biasa bisa mengenal mereka yang selalu berjuang demi pelastarian alam di daerah mereka.
makan bareng :D
“Tetapi alam bisa membalas kapan saja, kalau orang menyakitinya“ ini hanyalah salah satu petikan kalimat didalam sebuah buku tentang gunung. Sedikitpun mereka (GEMPALA) tak ingin alam disakiti, sikap ini terlihat jelas dari gerakan positif mereka selama bersama kami, baik di saat touring, tracking, dan disepanjang kegiatan, kami harap sikap itu pun ada di kami.

Kaki berlumpur, kami tetap tersenyum, apa lagi diiringin kalimat – kalimat “eh, tolong aja ya“ , kala batu kerikil karts yang rapuh berjatuhan, kami tetap tersenyum lagi penuh fokus, diiringi kalimat “batu.. batu.. batu..“ dan di jawab “hadir“. Belum lagi celoteh “reseee” disaat sedang melewati tanjakan “aduhai” tanjakan yang benar-benar memiliki kemiringan 90 derajat.  Kami kangen kalimat ditempat itu, dan kangen mereka, mereka Sahabat kami, Sahabat Abadi, GEMPALA edelwies.


itu siapa ?? yoyok ?? (foto by Yana)
Melewati pantai untuk menuju start pendakian (foto by Yana)

Melewati rawa

Salah satu track yang 90 derajat :D

Foto by Reza


Foto by yana

Masak di kegelapan hahha
dan mereka pun terlelap ckcckk






Senin, 06 April 2015

TANJUNG SOKE : Lungun-lungun pun tak bergema


Di simpang Petung, kami bertemu, setelah sebelumnya kami membuat janji untuk berangkat ke suatu Desa. Yana, Icha, Pandu (Kutai Barat), Kendy (Bontang), Jay (Sangatta) dan Desta (Samarinda). Ini adalah perjalanan pertama kali kami ke Desa yang tak jauh dari kaki Gunung Beratus, salah satu Gunung di Provinsi Kalimantan Timur, untuk mengisi liburan di akhir pekan.

Kendy, Yana, Pandu, Icha, Desta dan Jay (Foto By.Icha)
Latar Belakang Gunung Beratus (Foto By Icha)


Malam itu kami menginap di rumah Sekretaris Desa. Teh hangat menemani kami untuk berbagi cerita dengan beberapa warga di rumah bapak Sekdis. Cerita dimana kami sempat tersesat untuk menuju Desa ini, cerita tentang sebuah Sekolah Dasar yang hanya mempunyai 15 anak didik saja, dan sebagainya, hingga melelapkan 4 pria diatas kasur beralaskan seprei motif bunga berwarna merah tua.


Embun pagi Desa Tanjung Soke menyambut kami. Terlihat hewan-hewan ternak, kerbau, sapi dan kambing sudah memulai aktifitas di pagi harinya. Kami menuju kesuatu tempat dimana Lungun – lungun banyak didirikan, Lungun adalah kuburan Suku Dayak Luwangan, berupa peti yang dijunjung oleh batang kayu berukiran khas motif Suku Dayak Luwangan. Dulunya didalam setiap Lungun terdapat tulang-tulang manusia yang sudah meninggal, sekarang sudah tidak ada lagi, karena tulang-tulang tersebut sudah dikuburkan kembali ke dalam tanah, hanya ada tiga yang masih tetap berada seperti ratusan tahun lalu, tapi bukan di dalam Lungun, melainkan di dalam Klering, yaitu yang dijunjung bukanlah sebuah peti, tapi Guci. Di dalam Guci inilah yang masih ada tulang-tulang manusianya, bahkan sudah berumur ratusan tahun.


Lungun

Klering

Desa kecil yang hanya memiliki 116 jiwa dari 30 Kepala Keluarga ini belum teraliri listrik 24 jam, hanya Listrik Tenaga Surya hasil bantuan puluhan tahun lalu dari Pemerintah, dan Genset yang solarnya mereka beli sendiri untuk menerangi Desa ini. Jalanan menuju Desa ini pun aksesnya sangat buruk, sekitar 32 km, atau sekitar 120 menit dari ibu kota Kecamatan Bongan, yang masih masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Setelah berjalan-jalan mengelilingi Desa, dan melihat Lungun serta Klering, kami ber-enam menuju ke Gedung Sekolah Dasar, sebelumnya, malam tadi kami sudah memberitahukan niat dari ide dadakan kami kepada Kepala Sekolah, yaitu ingin berbagi ilmu serta bermain dengan anak-anak didiknya. Dari 15 siswanya, yang aktif hanya 10 siswa, bahkan untuk kelas 1, kelas 4 dan kelas 6 masing-masing hanya memiliki 1 siswa saja dalam satu kelasnya. Terbayang repotnya melihat Ibu Sabariah mengajar anak-anak tersebut seorang diri, oleh ibu Sabariah yang tak lain adalah Kepala Sekolah disini, anak-anak hanya dibag menjadi 2 ruang belajar saja, yaitu ruang pertama untuk kelas 1, 2 dan 3. Selanjutnya ruangan kedua untuk kelas 4, 5 dan 6. Ibu Sabariah juga dibantu oleh ponakannya untuk mengajar di SD ini.







Semangat anak-anak itu tak pernah kelihatan pudar, bahkan saat kami mengajukan beberapa pertanyaan, saat kami mengajak bernyanyi, disaat kami dan anak-anak menyebutkan satu demi satu butir Pancasila, dan disaat mereka memberitahukan apa cita-cita mereka. Terpikir oleh kami, mungkin sudah tidak ada lagi anak-anak sekolah di pedalaman Kalimantan Timur yang ke sekolah hanya menggunakan sandal jepit, bahkan tanpa alas kaki, tapi itu bukan masalah terbesarnya, yang penting semangat anak-anak untuk sekolah masih ada. Mereka pun merasa tak perlu bergema, apa itu lungun ?, dimana guru kami ?, kapan listrik menerangi Desa kami tanpa batasan waktu ?, mengapa jalan ke Desa berlumpur dan licin jika hujan ?, jika kami sakit ? jika kami lapar, ah kami tidak akan lapar, karena orang tua kami sangat kuat, bisa membuat ladang berhektar-hektar yang ditanami padi.

foto bersama anak - anak SD No. 14 Tanjung Soke beserta ibu Kepala Sekolah

foto bersama keluarga Sekretaris Desa

Inilah sebuah perjalanan, episode pengetahuan yang kami dapatkan bukan dari sebuah buku, tapi dari jendela sebuah Desa yang hampir tanpa sentuhan modern, namun luput dari sentuhan yang berwenang. Walaupun sempat membuat knalpot sebuah motor metic seorang teman lepas, walaupun sempat 40 menit kami jalan tersesat, tapi aroma pemandangan Gunung Beratus tak pernah lepas menemani pejalanan kami, dan senyum seorang gadis Desa yang menyambut saat pertama kali kami memasuki Desa. Ohya, senyum gadis itu juga yang mengantarkan kami meninggalkan Desa tersebut.

Foto - foto akses jalan menuju Desa Tanjung Soke, Kec.Bongan, Kab.Kutai Barat :






Tanjung Soke 03 – 04 April 2015.

Template by:

Free Blog Templates